Sejarah

Anda akan meninggalkan:

sejarah.org

dan pergi ke:

menguaktabirsejarah.blogspot.com

Lanjutkan?

 
Rumah Dijual
TEORI PEMBENTUKAN NUSANTARA
ANALISA Sejarah KEKAISARAN MONGOL
JENGHIS KHAN, SANG PENAKLUK
created : Ejang Hadian Ridwan

Alkisah di daratan Asia bagian tengah, tepatnya di negeri Mongol, terbentuklah suatu pusaran badai, semakin lama semakin besar, badai besar itu mulai bergerak disekitarnya daratan itu, lalu secara serentak bergerak menuju arah timur ke negeri daratan Cina, setelah itu berubah arak dan mulai bergerak lagi menuju arah selatan daratan mongol, tidak berhenti disitu pusaran badai dengan cepat menuju arah barat, menyapu negeri-negeri kawasaan Asia bagian timur-tengah dan sebagian tanah-tanah Eropa, lalu kembali lagi ke tempat asal mulanya, tapi badai besar itu tidak hilang tetap berputar, suatu saat secara liar badai itu akan bergerak kemana pun arah angin berhembus, bisa jadi melanda seluruh negeri-negeri ke seantero jagat ini.

Sungguh teramat dasyat badai besar itu, bagaikan kiriman malaikat maut, sungguh luar biasa kejam, mengerikan dan tiada ampun, menghepas segala apa yang terlewatinya, lebih dasyat dari tumpahan air bah, karena badai ini belum mau pergi kalau yang dilewatinya belum benar-benar musnah dan binasa.

Akibat yang ditimbulkan badai itu teramatlah mengerikan, nyawa manusia sudah tidak ada harganya sama sekali, jerit tangis anak manusia tidaklah dihiraukan, banjir darah dimana-mana, organ tubuh manusia berhamburan, kadang berupa potongan, terkoyak, atau terpisah, kepala manusaia jarang yang bisa bersatu dengan badan. Kehancuran merata disemua negeri, tidak peduli jerih payah puluhan tahun bahkan berabad-abad lamanya dihempasakan tak berdaya, kobaran api menjalar dan membumbung tinggi dimana-mana, merobohkan dan menghancurkan sekokoh apapun bangunan dibuat, menimbulkan warna merah jingga menyala, berseling warna abu-abu putih diangkasa, tanda keputusasaan dan duka nestapa teramat dalam bagi siapa yang mengalami, melihat, dan merasakan.

Burung-burung bangkai berterbangan penuh suka cita. Mereka mencari, mengintai, meliuk dan tinggal landas di arena kematian sederet dan setumpuk jasad manusia, burung-burung inilah yang mengambil keuntungan dari peristiwa dan kejadian itu. Tidak susah-susah lagi melakukan pemburuan dramatis mangsa-mangsanya seperti biasa. Mereka berpesta pora, menari-nari, mencabik-cabik dan melahap sisa-sisa jasad setiap manusia yang masih tersisa dan tercecer, sungguh kejadian dan peristiwa yang membuat bulu kuduk berdiri, memilukan, dan menyayat hati, tidak akan penah terlupakan sampai kapan pun bahkan sampai akhir dari dunia ini, akan tercatat dan tertulis dalam perjalanan kehidupan manusia selanjutnya sebagai tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah manusia dimuka bumi ini. Satu generasi peradaban manusia hilang dihempas badai yang teramat kejam ini, susah dan perlu waktu lama lagi untuk memulihkannya.

Badai besar dari darataan Mongol ini tiada lain adalah pasukan besar tentara kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh seorang panglima besar sekaligus kaisar didaratan luas itu. Pasukan besar ini sudah terlatih dengan sempurna, terpola dan tersetruktur dengan sangat rapi, teruji dilingkungan kaum atau bangsanya sendiri dan terbentuk kokoh serta tangguh karena tuntutan keadaan alam serta budaya yang ganas pada masa itu, naluri perang dan membunuh sudah mendarah daging, tersatukan dan terpadukan oleh suatu visi dan misi besar dari seorang anak manusia yang dalam tataran biasa termasuk kedalam golongan orang-orang genius, seiring perjalanan dan pengalaman hidup pribadinya yang sudah tertempa sempurna oleh ganasnya alam, tradisi atau kebisaan turun menurun hubungan atar manusia, kelompok kesukuan dan sosial budaya didaratan teramat ganas, itulah yang pula yang membentuk karakter pribadi yang kuat dan tangguh.

Nama gelaran panglima besar atau kaisar dari pasukan tentara mongol itu tiada lain yaitu Jenghis Khan (raja diraja) atau Sang Penakluk, yang terlahir dengan nama Temüjin, anak sulung Yesügei, pemimpin suku (klan) atau ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama pemimpin suku musuh yang ditewaskan ayahnya. Jenghis Khan (bahasa Mongolia: Чингис Хаан), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan, atau sesuai pelafalan dari bangsa-bangsa lain untuk sebutan namanya, nama asalnya, Temüjin, juga dieja Temuchin atau TiemuZhen, (lahir sekitar 1162 masehi sampai kematianya tanggal 18 Agustus 1227 masehi) adalah khan (kaisar atau raja) Mongol sekaligus Panglima besar pasukan tentara perang yang menyatukan bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa didaratan Mongolia yang kemudian mendirikan Imparium kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia (kesultanan Kwarizmi), sebagian Eropa dan diawali dengan penaklukan suku-suku bangsa Mongolia itu sendiri.

Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat. Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar ditengah perjalanan tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat.
BACA SELENGKAPNYA DI : menguaktabirsejarah.blogspot.com - Ejang Hadian Ridwan